Selasa, 29 Juni 2010

MENINGKATKAN KESEGARAN JASMANI SISWA MELALUI PENDIDIKAN JASMANI DENGAN METODE BERMAIN

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada dasarnya berperan mencerdaskan kehidupan bangsa, yang sasarannya adalah peningkatan kualitas manusia Indonesia baik itu sosial, spiritual dan intelektual, serta kemampuan yang profesional. Untuk itu pembangunan keolahragaan perlu dikembangkan dan ditingkatkan diseluruh tanah air terutama di sekolah–sekolah yang nantinya dapat menunjang proses belajar siswa. Mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, kemampuan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktifitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistimatis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan sebagai suatu pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan yang sangat penting, yaitu memberikan kesempatan pada anak didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistimatika. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat.
Pendidikan memiliki sasaran peadagogik, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, karena gerak merupakan aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman. Dalam perkembangannya yang terjadi selama ini telah terjadi kecendrungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandang ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill. Dengan adanya mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan salah satu media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-sportivitas-spritual-sosial) serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.
Usaha yang perlu dilakukan untuk melaksanakan usaha di atas adalah salah satunya dengan melakukan pembinaan olahraga disekolah-sekolah, serta melakukan olahraga secara rutin, kegiatan olahraga yang dilakukan disekolah tidak hanya terpaut dengan waktu 2 x 45 menit atau selama proses belajar mengajar berlangsung. Kegiatan yang dilaksanakan di sekolah harus terarah dan terencana, guna mencapai tujuan kesegaran jasmani yang diinginkan. Salah satu bidang studi yang cukup penting dalam rangka peningkatan kesegaran jasmani adalah mata pelajaran Pendidikan Jasmani.
Tujuan pendidikan jasmani di sekolah adalah membantu siswa dalam peningkatan kesegaran Jasmani melalui pengenalan dan penanaman sikap positif serta kemampuan gerak dari berbagai aktivitas jasmani, sedangkan fungsi dari Pendidikan jasmani yang disajikan di sekolah memiliki fungsi antara pengembangan aspek: (a) organic, (b) neuro moscular, (c) perceptual, (d) social dan (e) emosional (Depdiknas : 2003b).
Kesegaran jasmani merupakan aspek yang sangat penting dari kesegaran tubuh secara keseluruhannya yang memberikan kesanggupan pada seseorang untuk menjalani hidup yang produktif serta dapat menyesuaikan diri setiap beban fisik yang layak, (Sutarman, 1975). Dari uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa Pendidikan Jasmani ini adalah untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, emosional dan sosial yang selaras dalam upaya membentuk dan mengembangkan kemampuan gerak, menanamkan nilai, sikap dan membiasakan hidup sehat dikalangan siswa.
Program pendidikan jasmani seharusnya memberikan kesempatan bagi semua siswa untuk meningkatkan dan mempertahankan kesegaran jasmani mereka, sepadan dengan kebutuhan mereka yang selalu disibukkan dengan pelajaran tatap muka di kelas selama lebih kurang 8 - 10 jam sehari. Dengan demikian perlu adanya penyegaran dengan jalan berolahraga agar tingkat kesegaran jasmani tetap terjaga. Kesegaran jasmani merupakan faktor penentu dalam segala aspek kehidupan manusia. Kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang mengerjakan satu seri kelompok otot-otot dalam waktu yang lama untuk membebani sistim peredaran darah dan pernafasan tanpa menyebabkan ia berhenti bekerja (Bafirman 1994). Seorang siswa yang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang tinggi atau tingkat kondisi tubuh yang prima akan dapat melakukan aktifitas belajar dengan baik dalam waktu yang cukup lama, tanpa mengalami kelelahan yang berarti.

B. Rumusan Masalah
Latar belakang diatas, penulis bertolak ingin merumuskan masalah sebagai berikut:
 Meningkatkan kesegaran jasmani siswa dengan permainan kecil









BAB II
PEMBAHASAN


A. Hakikat Pendidikan Olahraga

Di sekolah-sekolah berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan dalam masa PPL, dimana keinginan siswa untuk berolahraga masih dirasakan sangat kurang tidak seperti yang diharapkan terutama bagi siswa perempuan. Kendalanya pada praktek di lapangan, dimana kurang aktifnya siswa dalam proses pembelajaran, disamping itu guru lebih menekankan pada aspek keterampilan cabang olahraga dari pada nilai-nilai yang terdapat dalam olahraga tersebut seperti yang tercantum pada tujuan pembelajaran. Hal tersebut di atas mengakibatkan guru lebih cendrung melatih dari pada mengajar, sehingga proses pembelajaran Pendidikan jasmani lebih menekankan kepada aspek psikomotor siswa dari pada aspek kognitif dan afektif. Karena lebih menekankan aspek keterampilan olahraga tertentu, yang aktif hanya siswa yang mempunyai ketrampilan saja, sedangkan siswa yang tidak senang berolahraga tidak aktif sama sekali.
Untuk itu perlu adanya pendekatan yang digunakan oleh seorang guru yang dapat menjembatani antara siswa yang mempunyai keterampilan olahraga dengan yang tidak mempunyai keterampilan olahraga. Salah satu alternatif pendekatan yang digunakan adalah dengan memakai metoda permainan seperti membentuk permainan kecil yang dirancang oleh guru untuk mengarahkan siswa lebih aktif bergerak dan menarik agar siswa itu berkeinginan dari dalam dirinya untuk mengikuti olahraga dengan merasa senang tanpa merasa terpaksa oleh gurunya. Pendekatan metoda permainan kecil adalah suatu proses pembelajaran dimana dalam mengajarkan teknik cabang olahraga melalui bentuk permainan kecil tanpa mengabaikan materi inti Pelajaran. Disini peran guru dalam memberikan motivasi dan metode mengajar sangat dituntut agar diharapkan siswa mempunyai keinginan yang tinggi terhadap pentingnya olahraga itu. Kegiatan olahraga ini jangan hanya terbatas dalam waktu 2 x 45 saja, akan tetapi perlu adanya olahraga tambahan di luar jam tatap muka seperti kegiatan ekstrakurikuler olahraga. Dalam pengajaran reflektif seorang guru dikatakan berhasil apabila ia dapat mencapai kepuasan, professional, dan ia vsecara efektf dengan lingkungan pengajaran khusus. Seorang guru yang reflektif harus mampu memanfaatkan lingkungan yang ada secara optimal sehingga dapat menumbuhkan situasi dan kondisi yang merangsang anak untuk senang belajar olahraga.

B. Hakikat Pendidikan Jasmani

Pengertian Pendidikan jasmani banyak sekali variasi yang dikemukakan oleh pakar antara satu dengan lainnya. Setiap penulis cendrung memberikan definisi pendidikan jasmani menurut pandangannya masing-masing. Pendapat Cholik, M (1997) mengatakan bahwa proses pendidikan jasmani yang melibatkan interaksi antara peserta (anak didik) dengan lingkungannya yang dikelola melalui aktifitas jasmani secara sistimatik menuju pembentukan manusia seutuhnya.
Kemudian dari pada itu Pendidikan Jasmani dapat juga kita artikan suatu pendidikan yang mempergunakan fisik atau tubuh sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, atau suatu pendidikan melalui aktivitas-aktivitas jasmani. Atau juga Pendidikan Jasmani adalah pendidikan yang mengaktualisasikan potensi-potensi aktivitas manusia berupa sikap, tindakan dan karya yang diberi bentuk, isi dan arah untuk menuju kebulatan kepribadian manusia dengan cita-cita kemanusiaan. Dari definisi di atas maka dapat dirumuskan bahwa pendidikan jasmani adalah suatu bagian dari pendidikan keseluruhan yang mengutamakan aktifitas jasmani dan pembinaan hidup sehat untuk pertumbuhan dan pengembangan jasmani, mental, sosial, dan emosional yang serasi selaras dan seimbang.
Pada usia sekolah anak diharapkan bergerak dengan aktifitas fisik yang teratur. Rangsangan sensoris pada usia dini penting untuk mengembangkan kemampuan, kemampuan menganalisis dan bahkan menjadi faktor perantara yang memungkinkan tercapainya proses belajar yang cepat pada tahap dewasa.

C. Hakikat Kesegaran Jasmani

Kesegaran jasmani merupakan aspek yang sangat penting dari kesegaran jasmani secara keseluruhannya, yang nantinya akan memberikan kesanggupan pada seseorang untuk menjalani hidup yang produktif serta dapat menyesuaikan diri setiap beban fisik yang layak, (Sutarman, 1975). Kemampuan seseorang untuk menunaikan tugasnya sehari – hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan, dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk keperluan yang mendadak. Dapat pula ditambahkan, kesegaran jasmani merupakan kemampuan untuk menunaikan tugas-tugas dengan baik walaupun dalam kedaaan sukar, dimana orang yang kesegaran jasmaninya kurang, tidak akan dapat melakukanya (Sumosardjono, 1992). Jadi dengan demikian dapat dikemukakan bahwa ada komponen-komponen yang dapat mempengaruhi kesegaran jasmani, yaitu : (a) kondisi fisik setelah melakukan tugas-tugas yang diberikan tetap baik; (b) kemampuan atau kapasitas seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas sehari-hari; (c) Kemampuan untuk mengatasi situasi dalam keadaan sukar.
Tingkat kesegaran jasmani sangat penting dan sesuai dengan kebutuhan siswa yang selalu dihadapkan dengan kegiatan jadwal pelajaran yang padat, karena bila kesegaran jasmani meningkat akan dapat memberikan hal yang berarti terhadap ketahanan jasmaniah. Seseorang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang tinggi akan memiliki kekuatan dan ketahanan untuk melakukan aktifitas kehidupan tanpa mengalami kelelahan yang berarti.
Selanjutnya seseorang yang mempunyai dasar kesegaran jasmani yang baik, dan perkembangan badan yang kuat melalui aktifitas jasmani, akan lebih memiliki pandangan keingintahuan sebab mempunyai semangat hidup yang lebih besar dan tingkat tenaganya yang tinggi. Tenaga tersebut diperlukan untuk menyelesaikan tugasnya dan kegiatan rutin” (Adisasmita, 1989). Dari penjelasannya dapat dikemukakan bahwa kesegaran jasmani merupakan factor penentu dalam segala aspek kehidupan. Seorang yang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang tinggi atau tingkat kondisi tubuh yang prima akan dapat melakukan aktivitas yang lama dengan beban yang cukup, tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Dengan meningkatnya kesegaran jasmani siswa, dia akan mempunyai daya tahan tubuh terhadap berbagai macam penyakit yang akan mengganggu aktivitas belajarnya. Kekebalan terhadap penyakit merupakan faktor yang sangat penting. Seorang siswa yang dikatakan dalam kondisi baik (fit) kesegaran jasmaninya, berarti kekebalan tubuhnya terhadap serangan penyakit keturunan maupun penyakit yang datangnya dari lingkungan semakin membaik.
Kesegaran jasmani dapat dikelompokkan sebagai berikut : a) Kekebalan terhadap serangan penyakit; (b) Kekuatan dan ketahanan otot; (c) Ketahanan cardiorespiratory; (d) Daya otot (muscular power); (e) Fleksibelitas; (f) Kecepatan; (g) Kelincahan; (h) Koor-Dinasi; (i) Keseimbangan; (j) Ketepatan” (Ahady dan Heiri 1982).

D. Hakikat Permainan Kecil Dalam Berolahraga

Pendekatan permainan adalah suatu proses penyampaian pengajaran dalam bentuk bermain tanpa mengabaikan materi inti. Permainan yang dimaksukan disini adalah permainan kecil yang materinya disesuaikan dengan standar kompetensi dalam kurikulum. Permainan kecil ini dapat digunakan untuk mengajar Atletik, senam dan cabang olahraga lainnya yang ada hubunganya dengan pendidikan jasmani. Menurut Cholik, M (1997) Pelajaran pendidikan jasmani di sekolah bukan mengejar prestasi (aspek skill) tetapi menyalurkan dorongan-dorongan untuk aktif bermain.
Pendidikan jasmani untuk anak harus lebih menekankan kepada aspek permainan dari pada teknik cabang olahraganya karena bermain adalah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia pada umumnya dan siswa khususnya. Jadi dengan demikian permainan dikonsentrasikan pada pendekatan memahami masalah yang didasarkan atas domein kognitif, dirancang oleh guru untuk mengarahkan siswa memahami kegiatan dan tujuan ketrampilan dalam kegiatan tersebut. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk membantu kelompok kecil atau individu yang tekniknya masih kurang. Dengan menyeimbangkan penekanan pada domein kognitif, afektif dan psikomotor dalam kegiatan fisik berupa bermain, diharapkan dapat menarik keinginan siswa bila mereka dibantu dan dorong oleh gurunya.
Bermain merupakan aktifitas yang dapat membentuk kepribadian dan penemuan diri bagi siswa. Penekanan dalam bermain akan menjadikan mata pelajaran Pendidikan Jasmani sesuatu yang sangat menyenangkan dan sangat menarik dan selalu ditunggu-tunggu oleh siswa.
Dengan pendekatan permainan kecil untuk mencapai tujuan pelajaran akan mempunyai dampak dalam proses belajar mengajar sebagai berikut :
a. Menempatkan permainan kecil menjadi fokus dari mata pelajaran Pendidikan jasmani yang dapat meningkatkan kegembiraan dan kepuasan pada diri siswa dalam melakukan gerakan-gerakan untuk bermain, dalam rangka mencapai unsur kesegaran jasmani.
b. Memungkinkan siswa yang kurang terampil berolahraga dan kurang menyenangi olahraga akan menyenangi kegiatan jasmani atau olahraga seperti kawan-kawan lain yang secara jasmaniah berbakat dalam olahraga.
c. Mendorong siswa untuk belajar mengambil keputusan mereka sendiri dalam waktu yang sangat singkat.
d. Keterampilan olahraga tidak mutlak harus dimiliki oleh siswa laki-laki saja tetapi siswa perempuan harus mampu untuk melakukannya.

Jadi dengan demikian dari berapa pendapat para pakar di atas maka dapat kita hubungkan dengan kenyataan yang ada,maka gerakan bermain siswa akan menemukan dirinya sendiri sebagai suatu kesatuan yang lahir tersendiri dengan ciri-ciri tubuh dan kapasitas dirinya sendiri. Konsep yang timbul tentang dirinya adalah mempertinggi ego seperti perhatian terhadap ketangkasan dan akal dan pikirannya. Untuk dapat meningkatkan kesegaran jasmani siswa tanpa mengabaikan kurikulum yang ada, di bawah ini disajikan permainan kecil yang mengarah pada pencapaian kurikulum dan juga untuk meningkatkan kesegaran jasmani siswa.
Contoh permainan kecil untuk pemanasan dengan materi pelajaran Atletik (lari sprint) dan mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dalam bentuk sederhana. Maka dengan adanya unsur permainan kecil yang dimunculkan dalam setiap pertemuan dengan siswa dalam proses belajar mengajar baik itu untuk pemanasan maupun pelajaran inti atau kegiatan akhir, maka kita sebagai seorang guru
Penjasorkes dapat membantu siswa untuk mencapai salah satu unsur kegembiraan. Dalam permaianan kecil unsure kegembiraan sangat diutamakan sekali.
Kegembiraan yang dimaksud disini dalam arti yang paling disenangi anak dalam bermain adalah kegembiraan dan menikmati setiap gerakan yang dilakukan. Anak berlari, melompat dan berputar sambil menjerit dengan gembira sebagai ungkapan rasa riang dalam hidupnya sehingga mereka dapat melupakan sejenak kegiatan rutinitasnya sehari-hari yang selalu disibukkan dengan berbagai macam persoalan yang ada dalam kehidupannya, seperti sebagai seorang siswa selalu menghadapi pelajaran yang sangat berat di sekolah sedangkan di rumah dihadapkan dengan setumpuk pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya dan juga membantu orang tuanya dirumah. Dengan adanya unsur kegembiraannya tadi anak dalam berolahraga tanpa disadarinya dia telah melakukan gerakangerakan yang sulit, dapat mengatasi permasalahan dengan cepat, dan dapat bertindak dalam seketika. Jadi dengan demikian apa yang diinginkan seperti kesegaran jasmani yang baik akan tercapai.
Dalam meningkatkan kesegaran jasmani siswa, guru olahraga banyak yang belum dapat memecahkan persoalan yang sering dihadapinya di lapangan. Untuk memecahkan permasalahan yang selalu timbul dari kegiatan olahraga di sekolah adalah dimana seorang guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan harus memiliki kemampuan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang dapat menarik dan mampu merangsang siswa untuk senang mengikuti pelajaran olahraga. Seorang guru Pendidikan Jasmani harus banyak mempunyai variasi atau cara mengajar apakah itu bermain membentuk kelompok-kelompok kecil atau perindividu siswa, dan mempunyai bermacam-macam permainan kecil yang mengarah ke standar kompetensi yang terdapat dalam kurikulum, sehingga membuat siswa itu senang mengikuti olahraga dan bermain.
Dalam pelajaran pendidikan jasmani dapat terlihat siswa ini banyak yang kurang melakukan kegiatan, ini disebabkan karena metoda yang dipakai oleh guru kurang menarik dan kurangnya pendekatan yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran. Pembelajaran terlihat sangat kaku dimana siswa lebih banyak menunggu giliran untuk melakukan kegiatan, sehingga waktu yang digunakan lebih banyak untuk menunggu giliran dari pada melakukan kegiatan. Kegiatan ini menyebabkan siswa lebih banyak diam dari pada bergerak, hal ini sangat bertentangan dengan karakteristik Pendidikan Jasmani dan olahraga. Disamping metoda pengajaran yang kurang menarik juga dibarengi dengan peralatan yang dipakai masih kurang kalau dibandingkan dengan jumlah siswa yang melakukan kegiatan olahraga.
Pengajaran yang baik dalam pendidikan jsamani dalam kenyataanya lebih dari mengembangkan keterampilan olahraga. Pengajaran yang baik tersebut melibatkan aspek-aspek yang berhubungan dengan apa yang sebenarnya dipelajari oleh siswa melalui partisipasinya, bukan aktivitas atau olahraga yang mana dapat mereka lakukan. Agar program Pendidikan jasmani berhasildengan baik maka perlu dikaitkan dengan program-program kegiatan lainnya.
Mengingat makna penting tersebut, aktifitas jasmani harus diartikan sebagai kegiatan peserta didik untuk meningkatkan keterampilan motorik dan nilai-nilai fungsional yang mencakup kognitif, afektif, sosial. Melalui kegiatan Pendidikan Jasmani di sekolah diharpkan anak didik menjadi tumbuh dan berkembang sehar dan segar jasmaninya, serta perkembangan pribadinya secara harmonis. Dalam hubungannya dengan prestasi olahraga pendidikan jasmani berupaya membentuk keterampilan gerak dasar yang bermanfaat dalam usaha pembibitan olahragawan melalui kegiatan ekstrakurikuler.




Kesimpulan
Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa dengan pendekatan melaui permainan kecil ini akan dapat mengikuti proses pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di tingkat sekolah akan menjadi lebih menyenangkan dan menimbulkan unsur-unsur kegembiraan, sehingga tingkat partisipasinya lebih meningkat dibandingkan pola-pola pembelajaran tradisionil. Model pembelajaran diusahakan dalam bentuk permainan (permainan kecil), meskipun atletik cendrung bukan permainan. Apabila dikaitkan dengan kajian teoritik, pemberian beban keterampilan gerak dengan memperhatikan tingkat perkembangan anak berpengaruh positif terhadap perkembangan selanjutnya.
Jika anak diberikan bentuk kegiatan yang semestinya dilakukan orang dewasa, mereka akan frustasi bahkan lari dari kegiatan. Sebaliknya bila bentuk kegiatan tersebut memang cocok untuk usia mereka, mereka akan senang dan gembira. Dan jika mereka senang dan gembira dalam beraktifitas, sudah barang tentu partisipasi mereka akan meningkat dalam proses pembelajaran. Dalam model pembelajaran ini guru dituntut aktif dan kreatif dalam pembelajaran anak. Kreatifitas diperlukan dalam mempersiapkan pelajaran maupun saat dilapangan. Karena tidak menutup kemungkinan saat dilapangan guru harus melakukan improvisasi ketika irama pembelajaran mandeg. Guru tidak hanya tergantung pada peralatan/perlengkapan yang dimiliki sekolah, melinkan harus kreatif menciptakan alat-alat pembelajaran sederhana.










DAFTAR PUSTAKA

Bafirman . (1989) . Pembinaan Kesegaran Jasmani : FPOK IKIP Padang.
Cholik, M. (1977). Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Jakarta, Proyek Pengembangan Guru Sekolah Dasar

Depdiknas, 2003b. Kurikulum (2004) Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani SMP dan MTs. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional. Sutarman. (1975). Pengertian Kesegaran Jasmani dan Tes Kardiorespirasi, Jakarta : Koni

Yusuf, Adisasmita. (1989). Hakikat, Filsafat dan Peranan Pendidikan Jasmani Dalam Masyarakat. Jakarta : Depdikbud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kalau mau komentar,,,
jangan lupa id/imel nya..
TQ